Percaya Cinta: Tiga Isyarat

Dibalik Diam Bisa Jadi Ada Usaha yang Paling Mulia

Setiap Rabu, gedung kesenian di pinggir sudut Jakarta adalah tempat terbaik untuk merefleksikan yang tak terdengar. Di sini ada puluhan penari muda yang memperlihatkan kebahagiaan mereka dalam mengatur gerak menjadi keindahan. Dulu aku sama seperti mereka, di panggung kecil berukuran 6×3 meter aku berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan kepada dunia bahwa hidup adalah untaian gerak. Aku yakin ketika orang yang melihat sebuah tarian dapat merasakannya, maka semua pesan akan tersampaikan pada waktunya.

Satu-satunya alasanku tetap datang ke gedung kesenian yang mulai usang ini adalah karena keterikatanku pada masa lalu. Gedung ini sudah seperti rumah yang membesarkanku. Ibu juga besar di sini. Sebelum ia pergi tanpa pesan, ia yang memperkenalkan dan mengajariku untuk memilih hidup seperti dirinya, menjadi penari. Kata ibu, “Menari adalah ritual menyampaikan segalanya walau tanpa suara. Jadi apapun yang ingin kamu sampaikan, menarilah. Maka semua orang yang melihatmu menari akan tahu segala isi hatimu.”

“Selamat datang Kak Tari! Kakak memang tak akan pernah lupa ya dengan tempat ini. Setiap ‘Pertunjukan Rabu’ selalu datang.” Seorang perempuan berusia belasan tahun yang sudah menggunakan pakaian hitam dengan rok ballerina menyapaku.

“Terima kasih sudah menjadi penonton setia pertunjukan kami ya Kak. Kalau ada hadiah penonton teladan, pasti Kak Tari dan Kak Iqbal yang jadi juaranya.” Sambil tertawa kecil ia memberikan tiket pertunjukan Rabu kepadaku.

Aku tersenyum, mengambil tiket VVIP yang selalu aku beli setiap Rabu.

Dan Iqbal….. Pasti itu namanya. Sore itu aku merekam namanya pada catatan hati yang paling dalam.

Setiap Rabu di gedung kesenian aku mendapati seorang laki-laki yang duduk di sisi kiri bangku penonton. Dia selalu menonton sendiri. Sudah bertahun-tahun aku memperhatikannya menjadi penonton setia pertunjukan ini. Ia selalu datang saat tirai panggung di buka dan langsung pergi tanpa tepuk tangan setelah tirai panggung ditutup.

Gedung tua dengan pertunjukan mingguan bukanlah acara besar untuk dihadiri banyak orang. Untuk penonton paling rajin sepertiku jelas sangat tahu berapa yang hanya singgah dan berapa yang selalu ada di setiap Rabu. Iqbal (mungkin itu namanya) selalu ada, menjadi penonton setia, sama sepertiku.

Setelah pertunjukan tari kontemporer ditampilkan, aku bersalaman dengan salah satu pelatih sanggar. Sang pelatih sanggar kemudian menawarkanku untuk ikut menari di “Pertunjukan Rabu”. Pikirku untuk menerima tawaran itu awalnya hanya ingin bernostalgia, tapi lama-lama aku punya misi yang sengaja ingin ku wujudkan. Aku berharap dapat mencuri sedikit perhatian. Supaya Iqbal (semoga benar itu namanya) setidaknya melihatku dan dengan gerak aku bisa menyapanya.

Tiga minggu berjalan, hari Rabu selalu jadi hari yang ku nantikan. Aku menari dengan seluruh rasa yang ingin ku sampaikan. Tentunya dengan terus berusaha keras untuk bisa menyapa Iqbal (benarkah itu namanya) dengan gerakan.

Namun di minggu keempat, kelima, keenam, hingga minggu kesepuluh aku tidak menemukan Iqbal (apa benar itu namanya) ada di bangku penonton yang selama ini ia tempati. Berminggu-minggu aku keluarkan gerak terbaikku, berharap ia melihat dan menerima sapaku. Tapi kadang konsenterasiku terganggu, itu terjadi karena ia yang tak juga muncul.

Tapi aku tak mau berhenti menari di sini. Selain karena aku masih berusaha untuk menyapa Iqbal (aku belum tahu kebenaran namanya), panggung ini terasa berbeda di tiga bulan terakhir. Aku mendapat tata cahaya panggung yang begitu bersinergi dengan kekuatanku menari.

Aku ingat beberapa kali lampu panggung berubah menjadi merah ketika gerak tubuhku cepat dan bersemangat. Kadang-kadang lampu panggung pernah berubah menjadi kuning temaram ketika aku ingin sampaikan tenang melihat Iqbal yang selalu duduk dan pergi tanpa terburu-buru. Pernah juga lampu panggung berwarna ungu ketika aku ingin sampaikan seluruh rindu pada Iqbal yang tak juga ku lihat ia menonton pertunjukan Rabu.

Sampailah pada Rabu terakhir aku menari di gedung usang ini, karena minggu depan aku harus berangkat ke Sydney – Australia untuk melanjutkan program Dance Short Courses. Ku peluk satu-satu adik-adik di Sanggar Padmanaresvara, sanggar yang selama ini membesarkanku untuk menjadi penari professional. Kemudian aku berterima kasih kepada seluruh crew dan pelatih yang banyak sekali mentransfer ilmu baru. Aku pasti akan rindu dengan mereka semua. Mereka yang menari bukan sebagai ambisi, tapi sebagai ketulusan abadi yang penuh sopan santun. Aku akan merindukan gedung ini, dengan semua yang ada di dalamnya, termasuk merindukan Iqbal (aku benar-benar ingin tahu siapa nama ia sebenarnya) yang menghilang tak lagi menjadi penonton setia “Pertunjukan Rabu”, justru saat aku mulai berusaha berkenalan dengannya lewat gerakan di panggung ini.

Setelah pamit dengan semua yang ada di sanggar, aku berkeliling gedung kesenian. Berencana untuk merekam setiap sudut gedung. Ku datangi belakang panggung, ruang ganti, studio kaca, gudang property pertunjukan, bangku penonton, dan untuk pertama kalinya aku singgahi ruang tata cahaya panggung.

Aku diam.

Tak bergerak.

Seperti tak bisa bernafas. Aku terkejut. Melihat Iqbal (aku belum juga tahu benarkah itu namanya) sedang merapikan seisi ruangan. Ia sedang mematikan tombol-tombol di meja. Seketika ia pun menghentikan aktivitasnya. Ia juga terkejut, diam, dan waktu seperti tak sengaja tercekik.

Aku menundukkan kepalaku sedikit dan tersenyum seolah menyapa.

Dengan udara yang masih gugup aku keluarkan kertas dan pulpen di dalam tasku, kemudian aku mulai menulis dengan tulisan yang tak terlalu bagus karena gemetar melakukannya. Ku berikan kertas itu padanya.

Terima kasih sudah membuatku bercahaya di atas panggung. Ternyata kamu yang membuat hasrat menariku lebih indah rasanya. –Tari

Dilipatnya kertas yang tadi ku tulis untuknya dan dengan segera ia mengambil sesuatu di dalam kantong jaketnya kemudian memberikannya kepadaku.

Hai Tari, sudah lama aku tahu namamu, dari ibu.

Maaf aku tidak bisa bicara. Sama sepertimu, Tuhan takdirkan aku tak bersuara sejak aku datang ke dunia. Padahal aku begitu ingin menyapamu, tapi aku tak sanggup.

Oh iya, kenalkan namaku Iqbal, aku seorang lighting designer gedung bertingkat. Ibuku penari, kau pasti kenal. Dia pelatih “Pertunjukan Rabu.” Karena itulah mungkin kau sering melihatku setiap Rabu. Sama seperti aku yang selalu melihatmu dengan rambut kuncir kuda, menggunakan selendang putih di lehermu, dan duduk di sisi kanan bangku penonton.

Setelah pertama kalinya aku melihatmu menari pada “Pertunjukan Rabu”, sejak itu juga aku memutuskan untuk belajar tata cahaya untuk panggung tari, tapi setelah minggu ketiga aku baru bisa menguasainya.

Maka di minggu keempat barulah aku mencoba. Aku coba dengan cahaya untuk menyapamu, memanggil namamu, menghadirkan suara yang tak kau dengar, menemanimu menari dengan seluruh rasa yang begitu ingin ku sampaikan.

Semoga kau suka dengan cahaya yang ku biarkan mendampingimu menari setiap Rabu.

Ku dengar hari ini adalah hari terakhir kau menari di gedung ini, maka kemarin malam ku putuskan untuk menulis semua di sini (semoga Tuhan memberikanku kesempatan untuk memberikan surat ini).

Dan bersama dengan kertas ini aku ingin sampaikan tentang warna cahaya di Pertunjukan Rabu” terakhirmu di gedung ini, maaf aku hanya memilih warna putih. Karena warna itu satu-satunya makna ketulusan dan kesucian yang banyak orang lambangkan. Dengan sederhana aku ingin menyapamu pada “Pertunjukan Rabu” terakhir ini, dengan segala ketulusan dan kesucian aku ingin sampaikan harapan terbesarku agar nantinya kau tahu bahwa ada seseorang di balik cahaya yang selalu mengagumi suaramu lewat gerak yang kau perlihatkan.

Detik ini dengan sederhana, lewat sebuah tulisan yang sedang kau baca, secara langsung aku menyapa,

Hai Tari, terima kasih karena dengan gerak kau sudah lebih dulu menyapaku.

Dan semoga kau tahu bahwa dengan cahaya, aku berusaha membalas sapamu, setiap Rabu, aku selalu ingin menyapamu.

Si Tukang Lampu,

Iqbal

Ku tatap mata Iqbal, berjalan ke arahnya. Ku ulurkan tanganku, kami tersenyum dan bersalaman.

Rabu itu, jadi Rabu terakhir aku menyapanya lewat tarian.

Rabu itu, jadi Rabu terakhir ia menyapaku lewat cahaya lampu panggung berwarna.

Tapi Rabu itu adalah Rabu pertama kami saling menyapa tanpa sarana yang selama ini jadi senjata, tanpa gerak, tanpa cahaya. Semua isyarat luruh di Rabu itu.

Dan Rabu itu akan jadi yang paling ku hafal peristiwanya, Rabu pertama yang walau tanpa suara akhirnya aku berhasil menyapa Iqbal (ternyata benar itu namanya).

Image

Cinta dalam diam sesungguhnya adalah suara dengan daya yang tak akan sanggup diredam.

21 Agustus 2013, di gedung kesenian dengan lampu temaram.

Advertisements