Percaya Cinta: Empat Janji

Bisakah percaya berhenti bercerita?

“Pokoknya mulai detik ini kamu harus cerita semua ya sama aku. Jangan ada yang dipendam sendiri. Aku pasti dengerin kok semua cerita kamu. Semuanya, kapanpun, dimanapun.” Kata Rianti seraya membujuk dengan riang.

Aku hanya tersenyum dan tak berkata apa-apa.

“Ah janji dulu dong. Yah yah yah? Jangan diem kalau lagi ada masalah. Cerita sama aku ya?”  Bujuk Rianti lagi sambil menyodorkan jari kelilingnya untuk memintaku agar sungguh-sungguh berjanji padanya.

Kali ini aku tak berdaya, senyum Rianti membuatku tak sanggup menolak.

Kemudian ia memberikan semangkuk bubur saat badanku demam tak karuan. Sudah 14 hari aku terbaring lemah karena tekanan pekerjaan. Kata dokter, semua sebab penyakit ini berasal dari sifatku yang pendiam. Alasan yang kedengarannya tidak logis memang. Dokter bilang karena aku tak mudah menceritakan masalah yang ku alami, termasuk lelah fisik maupun mental, sehingga ternyata tekanan mental berpengaruh pada kondisi kesehatan tubuhku. Aku sering lupa makan, stress, dan kurang tidur. Padahal sebenarnya aku bukan enggan bercerita jika ada masalah, tapi aku hanya takut akan menyusahkan orang yang ku ajak berbagi. Oleh karena itulah selama ini aku membungkus semua masalahku sendiri.

Namun sejak pertama kali aku harus dirawat di rumah sakit dan melihat Rianti yang sabar merawatku, saat itu pula aku berjanji untuk belajar percaya. Percaya untuk berbagi selain pada diriku sendiri.

Dengan Rianti, aku seperti berjanji pada diriku sendiri.

Aku berjanji akan mencoba mulai percaya untuk selalu bercerita padanya.

Selamat malam Rianti, aku lelah sekali hari ini. Pekerjaan di kantor benar-benar menyita hariku. Aku sampai lupa makan siang. Jika kau sampai tahu aku tidak makan hanya karena bekerja, pasti kau akan memarahiku, kemudian dengan cepat kau akan ke dapur untuk memasak ayam kecap dengan nasi putih panas kesukaanku. Dan bila aku benar-benar lelah sampai di rumah, aku menolak untuk mengunyah, kau pasti akan memarahiku lagi. Kau akan menyuapi nasi itu agar sampai di perutku, menyelamatkan lambungku yang hampir menangis karena tidak ku pedulikan.

Kau selalu saja begitu, menjagaku tanpa perlu ku minta.

Rianti, denganmu aku selalu jatuh cinta.

Malam ini adalah malam ke-48 kau mendengarkanku bercerita.

Selamat malam Rianti, tadi siang aku menonton video pernikahan kita. Kau tahu, aku merasa lebih tampan sekarang daripada dulu. Jangan-jangan ini karena kau yang merawatku. Aku tidak tahu akan seperti apa bentuk hidupku jika bukan kau yang menatanya. Aku tidak tahu akan seperti apa rupa mimpiku jika bukan kau yang merapikannya. Aku tidak tahu seperti apa warna hariku jika bukan kau yang menghiasnya. Aku terlalu beruntung menjadi laki-laki, dipasangkan dengan bidadari. Walaupun sepertinya tidak ada bidadari yang berlama-lama menyanyi di kamar mandi. Tapi mungkin kau pengecualian. Untukku kau tetap bidadari.

Kau selalu saja begitu, menjadi bidadari tanpa perlu ku minta.

Rianti, denganmu aku selalu jatuh cinta.

Malam ini adalah malam ke-163 kau mendengarkanku bercerita.

Selamat malam Rianti, tadi siang aku sholat dzuhur di mesjid tempat aku melamarmu dulu. Ingatkah kau malam itu tidak pernah romantis sama sekali, karena sebelum aku mulai ungkapkan niat menjalankan sunah Rasul, kau langsung tertawa setelah mendengar suara angin keluar dari perutku. Kau mungkin sampai sekarang tidak pernah tahu berapa kali aku harus mengulang berwudhu saat tarawih malam itu. Saat itu aku benar-benar gugup ingin melamarmu seusai sholat witir, aku tidak bisa mengatur arus keluar angin di perutku. Untung saja ternyata hati kita sudah lama bersatu, kau menerimaku dengan segala kekuranganku.

Kau selalu saja begitu, menerimaku apa adanya tanpa perlu ku minta.

Rianti, denganmu aku selalu jatuh cinta.

Malam ini adalah malam ke-275 kau mendengarkanku bercerita.

Selamat malam Rianti, tadi pagi aku membuat presentasi tentang perusahaan di masa depan. Banyak yang bilang ideku hebat sekali. Mereka tidak ada yang tahu kalau ideku selalu menarik tapi sering gagal saat eksekusi. Ingatkah kau tentang ideku yang mengajakmu menyaksikan aurora di kutub utara? Aku bilang, aku akan membawamu kesana saat ulang tahunmu yang ke-28, aku yakin tabunganku akan cukup untuk menemanimu kesana. Tapi ternyata saat itu aku masih jadi pegawai rendahan yang hanya sanggup membayar kontrakan.

Lantas di malam ulang tahunmu, saat janji itu harusnya sudah terpenuhi, aku tak jadi membawamu ke kutub utara. Aku hanya menyalakan AC kamar tidur kita di derajat paling dingin, ku matikan lampu ruangan yang paling besar, dan ku hias langit-langit kamar dengan pantulan gambar aurora dari infocus lama yang ku pinjam dari kantor.

Ku selimuti kau sambil ku peluk, ku nyanyikan lagu ulang tahun, dan kau memegang tanganku kedinginan. Katamu saat itu, kamar kita adalah kutub utara paling indah yang pernah kau datangi. Sampai akhirnya kita tidak tidur semalaman, kau mengulang kata terima kasih kepadaku sepanjang malam sambil melihat aurora buatan yang bergerak hanya karena efek software milik teman yang berbaik hati meminjamkan.

Kau selalu saja begitu, menghargai semua yang ku berikan tanpa perlu ku minta.

Rianti, denganmu aku selalu jatuh cinta.

Malam ini adalah malam ke-318 kau mendengarkanku bercerita.

Lihatlah sekarang aku sudah sangat terbuka, bahkan setiap hari, denganmu aku sudah bisa menepati janji.

Tapi kau masih tak bersuara, tak pernah bicara.

Rianti, ada di malam keberapakah nantinya kau akan menanggapiku bercerita?

Maaf aku bertanya, aku tahu kau tak bisa menjawab. Tapi sungguh aku ingin mendengar kau menertawai ceritaku, memarahi kelakuanku, mengingatkan kebiasaan burukku. Aku ingin apa saja darimu, asalkan kau yang melakukannya.

Tidakkah biasanya kau melakukan semua yang ku mau tanpa perlu ku minta? Dan mengapa kau sekarang masih diam saja?

“Sebaiknya bapak pikirkan lagi. Karena ini sudah hampir satu tahun Bu Rianti tak sadarkan diri. Dalam rekam medis, Ibu Rianti tak pernah mengalami perkembangan apapun. Penyakit Sistemik Lupus Eritematosus yang diderita Ibu Rianti sudah masuk ke target organ yang paling berbahaya, sudah sampai ke ginjal. Hal ini secara medis tidak bisa disembuhkan. Saran kami, jangan membuat Ibu Rianti terlalu lama menderita dengan keadaan seperti ini. Tapi semua keputusan ada pada bapak. Kami akan tetap melakukan yang terbaik untuk Bu Rianti.” Suara dokter tadi sore membayang-bayangiku. Malam ini, aku seperti dikejar hantu. Aku ketakutan tanpa wujud yang ku tahu.

Apakah benar aku harus menyerah melepaskan semua selang yang menempel pada tubuhmu? Membebaskanmu, merelakanmu.

Apakah benar itu semua akan membahagiakanmu? Membahagiakanku? Membahagiakan kita?

Rianti, sungguh hanya denganmu aku selalu jatuh cinta. Dan sekarang bersuaralah karena aku benar-benar meminta. Kau lebih bahagia jika bagaimana?

*klik play*

Would you know my name… If I saw you in heaven?”, Rianti menyanyikan lagu “Tears in Heaven” dengan suara kecilnya sambil memandangi aurora (pura-pura) buatanku di hari ulang tahunnya yang ke-28.

“Sayang, kalau di surga nanti kayaknya aku nggak akan inget apalagi manggil nama kamu deh.”

“Kenapa?”. Tanyaku protes.

“Kan udah 5 tahun aku gak pernah manggil nama kamu. Manggilnya ‘sayang’ melulu. Hahaha.”

“Punya istri gombalnya sampe bikin dzikir terus deh ini.”

Rianti bergerak membaringkan kepalanya di atas dadaku. Kali ini, dia pasti tahu ada suara yang ketukannya teramat cepat, yaitu jantungku ketika Rianti mendekat.

“Kalau nanti kita terpisah bukan karena keinginan kita, kamu harus janji untuk tetap percaya bahwa takkan ada yang berubah dari yang selama ini kita rasa.”

Diam-diam aku berjanji. Kemudian ku cium dahinya, kelopak matanya, pipinya, tangannya. Aku mencium bau surga darinya, sepertinya Tuhan memang sengaja menitipkannya.

Setengah gemetar ku angkat sebongkah keranda ke tanah merah.

Dengan berbagai kenangan kau ku antarkan dan ku yakin kau akan hidupkan dirimu lagi.

Karena kau tahu, hanya denganmu aku sanggup berjanji.

Walaupun sekarang kau pergi tanpa pernah ku minta.

Namun ku pastikan hanya denganmu-lah aku selalu jatuh cinta.

bluesky

Dan mulai malam nanti, melalui Sang Pencipta, denganmu aku akan tetap bercerita.

22 April 2013, hati yang sedang menguatkan kerangkanya sendiri.

Tiada akhir cerita dalam kata percaya, selamanya akan selalu sama, selama percaya itu masih ada.

Advertisements