Percaya Cinta: Lima Damba

Kekhawatiran lebih sering menghampiri manusia yang sedang sendiri

Tak ada yang sederhana dari putus cinta. Setelah sendiri lagi, aku diharuskan oleh keadaan untuk memulai ulang pencarian. Entah untuk kebutuhan hasrat ku sebagai manusia atau untuk memuaskan anggapan status sosial (tentang perempuan yang berumur di atas 20 tahun sebaiknya tidak sendirian). Karena tidak mungkin jika aku berlarut dengan berada di tempat yang sama, terus-menerus tersakiti putus cinta. Aku harus melakukan lagi sebuah perjalanan, mungkin lebih tepatnya aku harus mengulang lagi sebuah petualangan untuk satu-satunya tujuan: tidak lagi sendirian demi kebahagiaan.

Tak ada yang sederhana dari putus cinta, apalagi untuk perempuan sepertiku yang sulit jatuh cinta. Aku kesulitan menentukan, mungkin karena terlalu khawatir akan kembali gagal. Tapi lebih dari itu, aku ragu… bahwa benarkah bisa kita menentukan takdir yang sudah ditentukan Sang Penguasa?

Awal mula putus cinta, petualangan dengan misi “menemukan” dimulai dengan pertemuanku dan laki-laki Jawa yang lama hidup di ibukota. Wajahnya tampan, seorang manager bank multinasional dengan gelar S2 di belakang namanya. Ia yang terlebih dahulu mengajakku berkenalan. Beberapa kali kami pergi makan siang, hobby kami juga sama: kami rajin nonton film baru di bioskop. Kami sering bicara dan tidak pernah kehabisan cerita. Ia dari keluarga baik-baik dan dikenal sebagai laki-laki yang menyanyangi ibunya. Laki-laki ideal yang harusnya dipilih dan siap mendampingiku di masa depan. Namun di suatu ketika, aku menemukan kami berbeda visi. Ia menginginkan perempuan yang jadi pendampingnya nanti adalah perempuan yang mau menunggunya di rumah setiap hari, tidak melakukan apa-apa selain mengabdi pada anak-anak dan suami, tidak perlu mencari nafkah. Aku belum bisa menerima paham itu, mungkin karena aku sudah melewati sulitnya berjuang menempuh dunia pendidikan, aku tidak ingin hanya di rumah. Aku ingin punya peran untuk banyak orang selain keluargaku sendiri.

Baginya, perempuan sepertiku terlalu arogan.

Bagiku, laki-laki sepertinya…. Ah, aku tidak mau memberikan predikat buruk apapun tentangnya. Ia laki-laki baik yang menyukai aku yang arogan asal berubah ketika aku sudah menjadi istrinya nanti. Oleh karena itu yang ia minta, aku tidak bisa bersamanya.

Aku mendamba seseorang yang akan berjalan bersamaku dengan menerimaku seperti ini dan mendukung mimpi-mimpiku di masa depan.

Ternyata bukan dia. Dengannya, aku tidak bisa. Lantas dengan siapa?

Ah, jika begini aku lebih baik sendiri.

Petualangan berikutnya ku lanjutkan lagi. Kali ini aku yang lebih dulu tertarik dengannya. Ada seorang laki-laki yang ku temui di komunitas fotografi. Lucunya saat berkenalan, ia bilang ia hanya suka melihat hasil foto orang, ia tidak bisa pakai kamera. Hobinya sendiri main piano dan menciptakan lagu-lagu dengan bahasa Indonesia yang baku. Pikirku ia terlalu unik dan aku penasaran. Awal yang sangat baik untuk memulai sebuah hubungan adalah ketika aku ingin tahu semua tentangnya. Perempuan memang terlahir dengan rasa penasaran yang berlebihan.

Berbulan-bulan kami melakukan pendekatan. Aku menontonnya main piano di kafe-kafe di tengah kota, ia selalu mengoleksi hasil fotoku. Kami saling memuji satu sama lain. Kami terperangkap dengan senyum setiap malam karena pujian-pujian yang dilontarkan. Namun setelah kami jalani proses pengenalan, ternyata di antara kami hanyalah ada sebongkah kekaguman. Aku mengaguminya sebagai seorang aktivitis sosial sekaligus pemain piano yang pandai menciptakan lagu, ia mengagumiku sebagai perempuan urban yang mengkritisi masalah sosial lewat fotografi.

Ternyata hubungan tidak akan bisa berjalan hanya sekedar saling mengagumi. Dibutuhkan yang lebih dari itu, mungkin seperti sebuah celaan dan pemahaman tentang kekurangan masing-masing di antara kami. Sayangnya di antara kami tidak bisa mentoleransi kekurangan.

Baginya, aku kadang munafik dimana sering berdiri sebagai pemerhati keadaan masyarakat marginal tapi punya kehidupan pribadi yang teramat mewah.

Bagiku, laki-laki sepertinya…. Ah, aku tidak mau memberikan predikat buruk apapun tentangnya. Ia laki-laki baik yang menyukai aku yang munafik asalkan mau sedikit mengganti gaya hidupku yang terbiasa cukup.

Oleh karena itu yang ia minta, aku tidak bisa bersamanya.

Aku mendamba seseorang yang akan berjalan bersamaku dengan menerimaku seperti ini dan mendukung kegiatan yang membuatku merasa  tetap menjadi diriku sendiri.

Ternyata bukan dia. Dengannya, aku tidak bisa. Lantas dengan siapa?

Ah, jika tetap begini aku lebih baik sendiri.

Petualangan ku lanjutkan lagi, masih ada keyakinan yang tak padam kumiliki. Aku dikenalkan dengan seorang lelaki terlalu mapan. Bayangkan di usia 26 ia sudah memegang tiga perusahaan dengan pemasukan miliaran rupiah setiap bulannya. Temanku bilang, “Perempuan akan langsung menjatuhkan pilihan pada laki-laki mapan. Semua akan terlihat sempurna.” Di mataku, kadang memang betul. Laki-laki dengan tutur yang santun dan memperlakukan perempuan seperti kasta yang berada di atasnya, juga terlihat sanggup menafkahi kehidupan keluarganya memang termasuk kategori yang sempurna. Namun ternyata pertemuan kami terlalu singkat, ia terlalu berambisi membangun bisnisnya. Sepertinya kegiatan membangun rumah tangga hanya jadi pilihan terakhir ketika ia sudah bosan menambah saldo investasinya.

Baginya, aku tidak realistis karena aku tidak mau menunggu laki-laki yang sedang mengejar untuk memiliki segalanya dulu, barulah kemudian menikah.

Bagiku, laki-laki sepertinya….. Ah, aku tidak mau memberikan predikat buruk apapun tentangnya. Ia laki-laki baik yang menyukai aku yang tidak realistis asalkan mau bersabar menunggu sampai ia cukup puas dengan memiliki angka tertentu sebagai ukuran kekayaan pribadi untuk kemudian membangun rumah tangga.

Oleh karena itu yang ia minta, aku tidak bisa bersamanya.

Aku mendamba seseorang yang akan berjalan bersamaku dengan menerimaku seperti ini dan tidak mempermainkan waktu jika sungguh-sungguh ingin bersama.

Ternyata bukan dia. Dengannya, aku tidak bisa. Lantas dengan siapa?

Ah, jika terus begini aku lebih baik sendiri.

Petualangan berikutnya aku tidak sengaja bertemu salah seorang politikus muda. Ia wakil rakyat, gelarnya di Indonesia adalah penyambung lidah rakyat berdasarkan konstituen negara. Ah, terlalu berat sepertinya. Tapi setelah banyak berbincang bersama, aku seperti menemukan sosok yang ku idamkan. Ia gagah dengan pemikirannya yang tenang namun kuat dalam membuat rangka harapan di masa depan. Kami saling bertukar cerita…. dan hampir saja kami bertukar rasa.

Sampai akhirnya, ia bilang “Aku berprofesi dalam dunia politik. Aku tidak mau melibatkanmu. Aku belum sanggup melibatkan dunia yang kejam ini dengan siapapun. Kau berhak menempuh hidup yang aman untuk kau idam-idamkan. Itu semua tidak akan terjadi, jika bersamaku.”

Tepat setelah ia bicara begitu, aku meninggalkannya tanpa pesan, aku sakit hati tanpa selanjutnya meminta penjelasan.

Baginya, aku bukan seseorang yang bisa ia libatkan dalam dunianya. Aku tidak menerima alasannya, bagiku semua ucapannya kurang rasional. Karena jika ingin aku aman, lindungilah aku ketika ia memutuskan memilihku untuk hidup dalam satu dunia dengannya.

Bagiku, laki-laki sepertinya….. Ah, aku tidak mau memberikan predikat buruk apapun tentangnya. Ia laki-laki baik yang menyukaiku namun tak mau melibatkanku dan menjagaku dalam dunianya.

Oleh karena ia tak ingin berbagi dunia, aku tidak bisa bersamanya.

Aku mendamba seseorang yang akan berjalan bersamaku dengan menerimaku untuk tumbuh bersama dalam satu dunia.

Ternyata bukan dia. Dengannya, aku tidak bisa. Lantas dengan siapa?

Ah, jika selalu begini aku lebih baik sendiri.

Aku mulai bosan dan terlampau lelah. Aku tidak menemukan yang aku inginkan. Aku mulai khawatir bahwa aku terlalu teliti mendapati kekurangan orang lain sehingga aku tidak pernah sempat memilih dan tidak memberikan kesempatan orang lain untuk memilihku.

Kata temanku, sebagai perempuan harusnya kita tidak terlalu menjadi kaum pemilih. Terlalu banyak kriteria akan membuat perempuan tidak akan bersama siapa-siapa, karena porsi perempuan sebaiknya hanya menerima. Tapi aku tidak bisa. Aku selalu merasa punya hak untuk menentukan kata “bahagia” dalam kamus hidupku sendiri. Memilih teman hidup tidak mungkin sembarang saja. Aku ingin yang seutuhnya sesuai dengan yang ku harapkan. Salahkah jika alasan aku melakukan ini semua hanya untuk kebahagiaan?

Aku mulai ragu, terlebih lagi aku terlampau lelah berkenalan dengan orang baru yang selalu gagal menciptakan titik temu.

Aku menghentikan pencarian, aku menghapus semua petualangan.

Aku berpikir bahwa mungkin aku akan selamanya sendirian, selamanya kesepian.

“Maukah kau selalu bersamaku?”, Raffi memberikan cincin emas putih saat aku selesai mengabadikan matahari terbit dengan hantaran udara sejuk yang mengelilingi.

Tepat satu tahun yang lalu setelah memutuskan untuk menghentikan pencarian dan petualangan, aku lebih banyak berdoa. Benar-benar berdoa. Segala resah ku gantungkan pada Sang Penghapus Keresahan. Ku balut semua kekhawatiran akan ketidakmungkinan menemukan seseorang dengan harap yang kuucapkan lebih dari lima waktu sehari.

Aku hanya meminta agar Sang Pengasih membuka hatiku untuk seorang laki-laki yang membuka hatinya karena mendambakan aku menjadi pasangannya, untuk hidup bahagia di dunia dan seterusnya.

Ternyata cinta sederhana, ketika kita tidak mengharapkan sempurnanya kriteria, tidak mengharapakan sempurnanya manusia, tidak mengharapkan sempurnanya bahagia. Aku tidak menemukannya dan ia tidak menemukanku. Kami dipertemukan pada satu doa yang dikabulkan.

Ia adalah laki-laki yang ku damba. Sosok takdir sederhana tanpa kriteria yang selama ini aku punya.

Dengannya, aku percaya bahwa kami bisa berjalan bersama.

Dan sebenarnya, alasan paling istimewa mengapa aku memilihnya hanyalah karena ia menghentikanku untuk menginginkan segala yang sempurna.

Ternyata hanya itu yang ku damba.

Image

Kadang Sang Pengasih memberikan ruang untuk kita agar mampu menentukan takdir kita sendiri. Tapi satu hal yang pasti adalah manusia selalu diciptakan untuk manusia lainnya, jadi bukankah lebih baik jika kita tidak memilih untuk tetap sendiri?

Advertisements